anitadwiyuliati

Hidup Indah Bila Dengan Cinta

Polusi Kendaraan

Saat ini kota Yogyakarta sedang manghadapi masalah yang cukup rumit berkaitan dengan transportasi darat. Jumlah penduduk yang semakin bertambah, dibarengi dengan meningkatnya daya beli masyarakat terhadap kendaraan bermotor memicu meningkatnya jumlah kendaraan bermotor. Sumber dari PUSTRAL menyatakan, di kota Yogyakarta, rata-rata setiap bulannya terjual 6000 sepeda motor. Sepeda motor adalah transportasi yang dominan di kota Yogyakarta yaitu 79,72% dari 211.322 kendaraan pada tahun 2001. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor roda dua di kota Yogyakarta telah menggantikan alat transportasi lain misalnya bus yang hanya beroperasi sebanyak 591 bus dan dapat kita cermati banyak yang hanya mengangkut sedikit penumpang.

Secara umum, pertambahan sepeda motor memang lebih pesat dibandingkan kendaraan roda empat. Setiap tahun, jumlah kendaraan roda dua bertambah sekitar 11,8 persen, sementara kendaraan roda empat hanya 6,9 persen. Berdasarkan data Polda DIY, jumlah kendaraan bermotor terbanyak berada di kota Yogyakarta, yaitu 275.590 unit atau 28,23 persen dari total jumlah kendaraan bermotor (2005). Padahal, panjang jalan di kota hanya 224,86 kilometer. Tak heran, di sejumlah ruas jalan vital, seperti jalan Malioboro dan sekitarnya kerap terjadi kemacetan yang cukup panjang.

Gas buang kendaraan bermotor seperti CO, CO2 dan Timbal (Pb) menimbulkan masalah pernafasan dan kesehatan. Meningkatnya jumlah CO2 yang dilepas ke atmosfer semakin meningkatkan efek rumah kaca dengan semakin meningkatnya suhu udara.

Institut for Transportation and Development Policy (ITPD) Amerika Serikat pada tahun 2003 menyatakan bahwa emisi gas buangan dari kendaraan bermotor di kota Yogyakarta yang berupa hidrokarbon sudah melebihi ambang batas baku mutu udara ambient nasional yang ditetapkan pada PP RI No 41 tahun 1999 yaitu sebesar 160 ug/m3.Udara kota Yogyakarta pun semakin hari semakin panas, padahal Yogyakarta terletak tidak jauh dari Gunung Merapi, tetapi suhu udaranya sangat jauh berbeda dengan suhu udara pegunungan yang menyejukkan. Jika anda adalah penduduk asli kota Yogyakarta, maka anda akan sangat merasakan peningkatan suhu kota ini dahulu dengan sekarang. Salah satu penyebab meningkatnya suhu di kota ini adalah efek rumah kaca, apalagi jika anda terjebak macet pada siang hari diantara himpitan kendaraan-kendaraan bermotor yang ada disekitar, anda bukan hanya merasakan panas matahari yang menyengat dan efek rumah kaca, tetapi anda juga akan merasakan panasnya knalpot kendaraan bermotor yang ada disekitar anda.

Ditinjau dari sisi konsumsi energi pada sektor transportasi, sektor ini merupakan pengkonsumsi energi terbesar setelah sektor industri dan rumah tangga. Apalagi dapat kita cermati bahwa khusus untuk kota Yogyakarta yang bukan merupakan kota industri, tentunya sektor transportasi berpeluang lebih besar untuk menjadi sektor pengkonsumsi energi di Yogyakarta.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa permasalahan transportasi di kota Yogyakarta dipengaruhi oleh:

  1. Tidak seimbangnya pertambahan jaringan jalan serta fasilitas lalulintas dan angkutan bila dibandingkan dengan pesatnya pertumbuhan kepemilikan kendaraan yang berakibat pada meningkatnya volume lalu lintas.
  2. Meningkatnya mobilitas orang, barang, jasa dan pariwisata.
  3. Kurang disiplinnya pengemudi.
  4. Menurunnya kondisi fisik angkutan.
  5. Permasalahan tarif dan rute atau trayek.
  6. Manajemen lalulintas yang kurang baik.
  7. Ketidakterpaduan pengelolaan sistem transportasi.
  8. Pengembangan kota yang tidak diikuti dengan sturktur tata guna lahan yang serasi (tata ruang belum terpadu).

Berbagai program, mulai dari pemberlakuan hari tanpa berkendaraan, sampai pelarangan parkir di kota, yang kesemuanya dikenal dengan istilah “upaya mengendalikan transportasi” (“transportation control measures/TCM” ). Banyak TCM dipusatkan pada pengurangan kepadatan lalu lintas, dengan menggunakan sistem yang berkisar dari metode fisik, seperti lampu lalu lintas yang terkoordinasi, jalan satu arah, dan bermobil patungan atau jalur bus yang terpisah, sampai metode penggunaan insentif ekonomi, misalnya “tarif jalur padat” yang mengharuskan pengemudi membayar jika melalui jalan raya di saat lalu lintas padat. Termasuk penggunakan Scooter Matic kiranya dapat dijadikan sebagai alternatif pengendalian emisi kendaraan karena mengandung zero polution.

Sumber :

http://www.kamase.org/cara-lain-menangani-polusi-akibat-kendaraan-bermotor/

http://www.kamase.org/permasalahan-transportasi-darat-di-yogyakarta/

Single Post Navigation

2 thoughts on “Polusi Kendaraan

  1. indonesia terutama kota besar telah jadi wisata asap. kendaraan roda 2 maupun roda 4 sudah terlalu banyak dan terus bertambah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s